Realitas Sejarah Pengikut Yesus mula-mula?


REALITAS SEJARAH MENGENAI PENGIKUT YESUS MULA-MULA 
oleh Ronny Raay

Pengikut Yesus yang mula-mula merupakan sebuah sekte Yahudi yang dikenal sebagai "Nasrani" atau dalam bahasa Ibrani "Netzarim" (Kisah Para Rasul 24:5). Seberapa besar sekte ini dan bagaimana pengikutnya beribadah terungkap lewat pernyataan Yaa'qov ha-Tzaddik(Yakobus): "Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya [kepada Kristus] dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat." (Kis 21:20).

Santo Yerome, Bapa Gereja dari abad keempat, menjelaskan kaum ini sebagai orang"... yang menerima Kristus sedemikian rupa namun tanpa meninggalkan Hukum yang lama (Taurat)." (Yerome; On Isaiah8:14).

Bapa Gereja lainnya, Epiphanius memberikan deskripsi yang lebih detil:
"Tetapi pengikut sekte ini, tidak menyebut diri mereka Kristen - melainkan Nasrani. Mereka tidak mempunyai pendapat yang berbeda namun melakukan semua hal tepat seperti apa yang diperintahkan dalam Hukum Taurat, menurut tata cara Yahudi - kecuali satu hal, kepercayaan mereka terhadap Mesias... tetapi karena mereka tetap terbelenggu oleh Hukum Taurat - sunat, hari Sabat, dan lainnya, mereka tidak tergolong ke dalam Kristen." (Epiphanius; Panarion 29).

Dan sebetulnya masih banyak lagi sumber-sumber literatur dari abad-abad pertama sampai ketiga-belas Masehi yang bercerita tentang kaum ini. Dalam bukunya Tathbit Dala'il Nubuwwat Sayyidina Muhammad, 'Abd al-Jabbar - seorang penulis Arab dari abad ke-10 - mengisahkan bahwa kaum Nasrani masih bisa dijumpai di Palestina hingga abad kelima. Dan acuan terakhir setidaknya dapat kita temui dari tulisan Gregorius of Bergamo (1250 M) yang menceritakan tentang kaum ini dengan menyebut mereka sebagai kaum Pasagini.

"Masih ada tersisa sekte Pasagini. Mereka mengajarkan... bahwa hari-hari raya dalam Perjanjian Lama harus tetap dipelihara, menjaga diri dari makanan haram,dan hal-hal semacam itu, termasuk ritual persembahan korban. Hukum Perjanjian Lama harus dipelihara sebagaimana Perjanjian Baru, sunat tetap harus dilakukan menurut hukum." (Gregorius of Bergamo)

Dari keterangan di atas kita menangkap 3 poin:
1. Pengikut Yesus mula-mula = sekte Yudaisme = sekte Nasrani
2. Mereka - setelah menerima Yesus - 
3. Menjadi rajin (zealous) memelihara hukum Taurat.

Nasrani Kristen

Mungkin banyak di antara saudara-saudara sekalian yang terhenyak dengan poin ketiga. Apa-apaan ini? Nasrani tidak sama dengan Kristen?

YA, BENAR! NASRANI TIDAK SAMA DENGAN KRISTEN.
Bagi saudara-saudara yang muslim mungkin lebih terhenyak lagi sebab selama ini anda mengidentikkan Nasrani dengan Kristen. Perhatikan, bahwa keterangan di atas diambil dari kitab Kisah Para Rasul (karangan Lukas, 60 M), On Isaiah 8:14 (St. Jerome, abad 4) dan Panarion (Epiphanius, abad 4), semuanya ditulis berabad-abad sebelum Muhammad. Dan juga perlu diingat keterangan-keterangan di atas justru berasal dari Bapa-bapaGereja: St. Yerome dan Epiphanius. Mereka sendiri mengakui bahwa mereka,Gereja Kristen tidak sama dengan kaum Nasrani.

BAGAIMANA AGAMA KRISTEN TERBENTUK?
Setelah Yesus menyelesaikan pelayanan-Nya di muka bumi, ajaran Yesus menyebar cepat ke seluruh negeri, di Yerusalem dan kota-kota lainnya seperti Lydda, Joppa (Yope), Kaisarea, Galilea, dan Damaskus (Damsyik). Jemaat di Yerusalem berada di bawah pimpinan tiga orang murid utama Yesus - Petrus, Yakobus dan Yohanes - yang juga dikenal sebagai Sokoguru (Galatia2:6). 

Salah seorang pemimpin yang paling penting adalah Yakobus, saudara Yesus, yang dijuluki Tzaddik ("Orang Benar"). Ia hidup sangat keras dan teliti dalam menaati hukum agama, sehingga dikabarkan bahwa ia diperbolehkan untuk memakai jubah imam dan berdoa di Ruang Imam dalam Bait Suci. (Ecclesiastical History, Eusebius, 325 M)

Yakobus Tzaddik dan jemaat mula-mula sama sekali tidak mengabaikan Taurat bahkan sebaliknya sangat taat dalam menjalankan setiap hukum yang ada. Karena Yesus sendiri berkata bahwa Ia bukan datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi melainkan untuk menggenapinya. (Matius 5:17-20).

"Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya danmereka semua rajin [zelote] memelihara hukum Taurat." (Kisah Para Rasul 21:20)

Jadi setelah mereka menerima Yesus, justru mereka menjadi semakin rajin (zealous) memelihara Taurat. Orang-orang ini dianggap tidak lebih sebagai sebuah sekte dalam agama Yahudi, seperti halnya sekte Farisi, Saduki, dan Essenes,dan mereka kemudian dinamakan sekte orang Nasrani - diambil dari nama kota asal Yesus, Nazaret (Kisah Para Rasul 24:5).

Baru kemudian di Antiokhia, para pengikut Yesus dinamakan Kristen berdasarkan gelar yang dimiliki Yesus, Christos atau Messias.(Kisah ParaRasul 11:26) Jemaat Antiokhia inilah yang kemudian menerima Paulus, seorang Yahudi yang kemudian bertobat untuk mengikuti Yesus (40 M). Paulus dikenal sebagai rasul bagi orang-orang bukan Yahudi. Ia terkenal oleh pelayanan penginjilannya yang menjangkau daerah-daerah Asia Kecil, Yunani, hingga Roma. Sayangnya ajaran Paulus sering kali disalah-pahami oleh orang-orang. Mereka menuduh Paulus mengajarkan untuk melepas hukum Taurat. Para penatua di bawah pimpinan Yakobus menyarankan Paulus untuk melakukan upacara pentahiran diri seperti yang tertulis dalam Taurat untuk membuktikan bahwa fitnahan itu tidak benar. Paulus menurut. Ia lalu mengikuti saran mereka untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa ia tetap memelihara hukum Taurat (Kisah Para Rasul 21:15-26).

Ada dua peristiwa penting yang terjadi beberapa tahun kemudian:
1. Yakobus (pemimpin sekte Nasrani) mati syahid (62 M).
2. Bait Suci dihancurkan (70 M).

Dua kombinasi peristiwa ini menyebabkan terjadinya perpisahan antara orang-orang Yahudi di Yerusalem yang percaya kepada Yesus dengan yang tidak. Saudara Yesus, Yakobus Tzaddik telah memegang peranan yang sangat besar dalam menjembatani hubungan antar dua kelompok ini. Sayangnya Ananus, imam besar pada masa itu luar biasa sentimennya. Ia menghasut orang-orang Yahudi untuk merajamnya karena Yakobus mengajarkan bahwa Yesus adalah Mesias. (Antiquities 20:9:1 - FlaviusJosephus 93 M; Ecclesiastical History - Eusebius 325 M). 

Dengan wafatnya Yakobus, maka kepemimpinan jemaat pun dialihkan ke Simeon, saudara Yesus yang lain. Ia memimpin jemaat untuk pindah ke Pella, sebuah kota di seberang sungai Yordan. Mungkin saat itu mereka teringat akan ramalan Yesus mengenai Yerusalem. Tetapi sebagian lainnya tetap berada di Yerusalem. Tahun 67, Vespasianus tiba di Palestina untuk mempersiapkan perang. Akan tetapi tahun 70, ia dipanggil pulang ke Roma untuk dijadikan kaisar, sehingga ia terpaksa menyerahkan tugas ke anaknya Titus. Tugas berat dipikul oleh Titus sebab ia sekarang berhadapan dengan sebuah bangsa yang sangat fanatik dengan agama mereka. 

Puluhan ribu orang Yahudi maju berperang mempertahankan Yerusalem, termasuk pula di antaranya orang-orang Nasrani. Setelah mengepung Yerusalem selama enam bulan, akhirnya Titus berhasil meratakan seluruh kota termasuk Bait Suci. Sejarawan Yunani, Dio Cassius melaporkan bahwa 6.000 orang Yahudi Zealot bertempur dengan gagah berani mempertahankan tempat suci mereka itu. Dengan hancurnya Yerusalem, habis pula riwayat peribadatan Yahudi di Yerusalem dan terbukti pula ramalan Yesus empat puluh tahun yang lampau.

Apa yang terjadi setelah kehancuran Yerusalem terhadap kaum Nasrani hanya bisa kita ketahui lewat keterangan Bapa-Bapa Gereja zaman dahulu seperti Yustinus Martyr, Irenaeus, Hyppolytus, Tertullianus, Origenes, Yerome, Eusebius, dan Epifanius, di samping pula keterangan dari seorang penulis Nasrani bernama Heggesipus. Kira-kira beginilah menurut keterangan mereka. Setelah situasi tenang, kaum Nasrani kembali dari Pella dan tinggal berbarengan dengan orang-orang Yahudi lainnya di bukit Sion. Mereka menggunakan sebuah rumah yang masih tersisa untuk berkumpul. Epifanius juga menceritakan bahwa sebagian lainnya menempati tujuh sinagoga di sekitarnya. Epifanius menyebut mereka Nazoraioi. Hingga masa pemerintahan Kaisar Aelius Hadrianus, ada lima belas orang yang pernah menjabat sebagai uskup dan semuanya adalah orang Yahudi (kerabat/famili Yesus).

Di saat yang bersamaan kaum percaya dari kalangan bukan Yahudi - setelah inisaya sebut dengan Kristen saja - semakin berkembang meski berada di bawah tekanan situ-sini. Mereka tidak lagi berkiblat ke Yerusalem yang telah hancur. Yerusalem adalah kota terhukum. Untuk itu mereka memilih Roma sebagai gantinya. Disinilah bibit-bibit perbedaan mulai menjurus ke arah perpisahan antara kaum Nasrani dengan kaum Kristen.

Pada tahun 130, Kaisar Hadrian tiba di Yerusalem, ia memutuskan untuk membuat sebuah kota metropolis baru di atasnya. Ia menamakannya Aelia Kapitolina, berasal dari kombinasi antara namanya dengan penghormatan terhadap dewa-dewa Roma (Kapitol=ibukota). Rencana Hadrianini memancing kegeraman di kalangan Yahudi. Biar bagaimanapun mereka tidak rela kota mereka dipenuhi kuil-kuil Yupiter dan Aphrodite. 

Seorang bernama Simon Bar Koseba segera membunyikan genderang perang. Mula-mula pemberontakan ini mampu menguasai kota dengan mendepak Legion Kesepuluh dari sana. Orang-orang memandangnya sebagai Mesias dan menyebutnya "Putra Bintang". Tetapi keberuntungan Bar Koseba terlalu cepat berbalik. Pasukan Yahudi terlalu kecil untuk menghadapi raksasa Romawi. Dio Cassius menceritakan pasukan Romawi secara sistematis telah menghancurkan 50 benteng, membumi-hanguskan 985 desa, dan membantai 580.000 pasukan Yahudi. Terakhir, pada tahun 135 Bar Koseba berhasil didepak dari Yerusalem dan terbunuh di benteng terakhirnya di Bethar. 

Seluruh orang Yahudi diusir dan untuk selanjutnya dilarang memasuki Yerusalem. Begitu pula dengan kaum Nasrani karena mereka juga dipandang sebagai Yahudi. Mereka kemudian hidup berpencar di kota-kota sekitar Galilea. Rencana Hadrian berlanjut, sebuah kota baru berdiri dan bernama Aelia Kapitolina. Hadrian mendatangkan orang-orang Yunani dan Suriah untuk mengisi kota tersebut. Tidak dapat disangkal, beberapa di antara orang-orang itu adalah orang Kristen (Ecclesiastical History - Eusebius 325 M).

Kehidupan kaum Nasrani pun makin lama makin tersisih. Di satu pihak mereka tidak lagi diterima oleh orang Yahudi, di pihak lain mereka juga tidak diterima oleh orang Kristen. Mulai kira-kira tahun 90, kaum Nasrani tidak diperbolehkan lagi untuk bersembahyang di sinagoga-sinagoga Yahudi. Bagaimana keadaan mereka dapat dilihat dalam surat Yerome kepada Agustinus pada tahun 404.

"Pada zaman kita ada sebuah sekte di kalangan orang Yahudi di seluruh sinagoga-sinagoga di Timur, yang disebut Minnim, dan sekarang dicap bidah pula oleh orang Farisi. Pengikut sekte ini dikenal luas sebagai kaum Nasrani, mereka percaya kepada Kristus, anak Tuhan, lahir dari perawan Maria, dan mereka berkata bahwa Ia yang menderita di bawah Pontius Pilatus, dan bangkit lagi, adalah orang yang sama seperti yang kita percayai. Tetapi sementara mereka ingin menjadi Yahudi dan Kristen sekaligus, mereka akhirnya tidak tergolong ke dalam salah satu pun." (Surat Yeromekepada Agustinus)

Perpisahan ini memberikan peluang bagi orang-orang percaya non-Yahudi (yang berlatar belakang dari kultur paganisme) yang tidak mempedulikan keyahudian "kepercayaan" mereka - untuk bersuara lebih besar dalam urusan-urusan komunitas dan penafsiran Alkitab. Polemik anti-Yahudi sudah muncul seawal-awalnya pada tahun 98 dalam ajaran St. Ignatius, uskup Antiokhia - kota dimana istilah Kristen pertama kali dipakai (Kis 11:26).

Ignatius mengatakan kepada orang-orang Kristen non-Yahudi agar tidak lagi mengikuti cara beribadah orang-orang Yahudi dan kepada orang-orang Yahudi yang telah menerima Mesias agar menghentikan cara hidup Yahudi mereka. Demikian tulisnya: "tidak masuk akal berbicara tentangYesus Kristus dengan lidah [Yahudi] dan menumbuhkan harapan dalam pemikiran kepercayaan Yahudi yang sekarang sudah berakhir."

Perlakuan dari orang Kristen sendiri makin lama makin garang. Mereka mencap kaum Nasrani sebagai kaum tersesat. Karena jumlah mereka lama-kelamaan jauh lebih banyak, maka segera saja mereka mulai melakukan tekanan-tekanan dan penganiayaan terhadap kaum Miskin tersebut. Semua tulisan-tulisan buatan kaum Nasrani banyak yang dihancurkan karena dianggap palsu dan sesat. Jadi tidak heran kini hampir tidak tersisa lagi peninggalan kaum Nasrani, kecuali fragmen-fragmendalam tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja.


PAULUS BUKAN PENDIRI AGAMA KRISTEN

Pertama-tama perlu diluruskan dahulu siapakah Paulus yang diceritakan dalamPerjanjian Baru.

Paulus dituduh:
"Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani." (Kis 24:5)

Paulus mengaku:
"Tetapi aku mengakui kepadamu, bahwa aku berbakti kepada Tuhan nenek moyang kami dengan menganut Jalan Tuhan, yaitu Jalan yang mereka sebut sekte. Aku percaya kepada segala sesuatu yang ada tertulis dalam hukum Taurat dan dalam kitab nabi-nabi. " (Kis 24:14)

Perhatikan, baik para penuduh maupun Paulus sama-sama berkata bahwa Paulus adalah tokoh sekte Nasrani - bukan Kristen sebagaimana pengertian kita saat ini (ingat persamaa nNasrani Kristen). Kristen dibentuk atas dasar doktrin-doktrin salah yang dihasilkan dari pemahaman dan penghayatan non-Ibrani terhadap Alkitab Ibrani, termasuk tulisan-tulisan Paulus.

Anda boleh mempunyai Alkitab dengan teks paralel Yunani terbaik di dunia, tetapiselama anda tidakberusaha memahaminya dalam konteks Ibrani sebagaimana Alkitab itu ditulis, makaanda tidak akansampai kepada pemahaman yang benar.

Rasul Petrus mengakui bahwa dalam surat-surat Paulus ada hal-hal yang sukar dipahami. Ia berpesan agar berhati-hati terhadap bahaya pemutar-balikkan surat-surat Paulus tersebut.

Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain. (II Petrus 3:15-16)

Siapakah mereka ini? Mereka adalah "orang-orang yang tidak mengenal hukumTuhan" (II Petrus 3:17). Mereka tidak memiliki basis kepercayaan yang berdasarkan Taurat. Merekamengajarkan bahwa Yesus datang untuk membebaskan kita dari kutuk hukum Taurat. Mereka menukar hari Sabat menjadi hari Minggu, menjadikan hari raya berhala Sol Invictus sebagai hari kelahiran Yesus, serta mengajarkan kebencian terhadap orang Yahudi. Mereka membuat agama dan peribadatan baru yang berbeda dengan apa yang dianut oleh para jemaat mula-mula.

Mereka inilah yang telah menyerongkan ajaran Yesus dan rasul Paulus. Jadi sangat jelas bahwa tuduhan terhadap Paulus adalah tidak benar. Tuduhan tersebut sebaiknya dilemparkan kepada para Bapa Gereja dari abad kedua hingga kelima Masehi, St. Ignatius, Tertullianus, JustinusMartir, St. Yerome, St.Agustinus, Athanasius, St.Yohanes Chrisostomus, dll. Merekalah pendiri Kekristenan. Bukan Paulus maupun Yesus sebab Yesus datang tidak membawa agama baru.


Yesus berkata:
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu jot atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang paling tinggi didalam Kerajaan Sorga." (Matius 5:17-19)

<===>

Komentar